Monday, March 7, 2016

Prewedding Story: Vision, Passion & Contribution



Tahun 2016 penuh kejutan seperti roller coaster. Bukan hanya karena tanggal 9 Maret ada gerhana matahari total yang hanya terjadi di Indonesia yang bertepatan dengan hari pernikahan kita, tapi juga karena tahun ini Tisna mengambil keputusan yang berani soal perjalanan karirnya.

Tisna yang belum lulus dan baru pengalaman bekerja selama 2 tahun di perusahaan terakhirnya bekerja - KIBAR yang superb keren dan impactful - seperti sedang berada di puncak karir. Tisna mendapat banyak kepercayaan untuk bisa nge-lead berbagai project Google, coworking space pertama dan teraktif di Surabaya, Forward Factory, program inkubasi tingkat kota pertama di Indonesia, Start Surabaya dan berbagai project impactful lainnya.

Meski masih akan banyak berbagai kesempatan yang bisa dicapai selama di Kibar. Dan mungkin belum tentu bisa Tisna dapatkan di tempat lain. Tisan tetap menggambil keputusan untuk memantapkan diri resign dan membangun usahanya sendiri. Seperti yang sering disampaikan oleh Foundernya Kibar, ko Yansen Kamto bahwa anak Kibar itu hanya boleh kerja 2 tahun, setelah itu harus keluar dan bikin perusahaan sendiri. Dan Alhamdulillah Tisna dengan bangga bisa menjadi salah seorang dari anak Kibar yang membuktikan omongan tersebut.



Sekarang Tisna dan co-foundernya Febria sedang merintis Leap Up, technology company yang ingin berkontribusi untuk Indonesia melalui pendidikan, teknologi dan kewirausahaan. Sebagai startup bayi, kami sangat bersyukur bisa tumbuh dengan lumayan cepat. Di Desember ini, hanya Tisna dan Febria yang menjalankan Leap Up. Kini ada 7 orang anggota tim yang tersebar di Sumedang, Bandung dan Surabaya. Kita juga bersyukur di awal perjalanan Leap Up kita bisa mendapatkan profit yang dapat digunakan untuk operasional beberapa bulan kedepan, bahkan hingga sampai akhir tahun. Jauh sebelum itu, kita juga bersyukur bisa membuat program kolaborasi dengan IDCloudHost yang kami beri nama EKA BIMA.

Keputusan untuk merintis usaha sendiri bukan tanpa Drama, justru pihak keluarga terdekat yang ngerasa paling deg-degan karena di bulan Maret Tisna bakal menikah sedangkan pendapatan 'tidak jelas' dan tabungan habis untuk modal usaha (beli Macbook  >.< ). Tapi karena keyakinan mengenai niat baik akan selalu diberikan jalan yang baik pula.



Rita hingga saat ini masih bekerja di sebuah brand muslim lifestyle di Bandung. Namun juga akan berencana resign dan coba menerapkan ilmu yang didapat ke perusahaan rintisan sendiri.

Menjadi pengusaha memang banyak deg-degannya tapi juga banyak berkahnya. Karena banyak manfaat yang bisa didapat dimulai dari kita berkontribusi pada permasalahan atau kebutuhan masyakarat, memberikan lapangan pekerjan, dan bisa menghasilkan profit dari sesuatu yang kita sukai, sesuatu yang merupakan passion kita.

Karena kita akan menikah, tentu visi masing-masing dari kita adalah visi bersama. Tisna ingin berkontribusi dan berkarya lewat pendidikan, teknologi dan kewirausahaan. Rita ingin berkontribusi lewat pendidikan dan berkarya lewat muslim lifestyle. Dan itu semua kini visi bersama.



Kami menyadari bahwa hidup adalah perjalanan yang dinamis, kadang berhasil, kadang gagal, kadang untung, kadang rugi, kadang senang, kadang sedih. Dan Insha Allah kini kami akan saling mengingatkan dan mengkuatkan. Amin.



Designed By Seo Blogger Templates