Sunday, March 20, 2016

Give and Take: A Revolutionary Approach to Success


Akhir pekan ini, gw lagi mood untuk baca dan nulis. Kemarin dari abis sholat subuh akhirnya bisa kelarin Work Rules dan langsung nulis summarya supaya bisa gampang kalo suatu saat butuh lagi isi bukunya. Hari Minggu ini moodnya masih ada dan akhirnya gw beresin buku Give and Take: A Revolutionary Approach to Success (ini juga hasil pinjeman udah lama banget, sempet dititip lama di kosan temen di Jakarta pas pindahan lagi ke Sumedang).

Buku ini ditulis oleh Adam M. Grant seorang profesor muda di Wharton School of the University of Pennsylvania dan tentu saja seorang penulis. Selain buku ini, buku lain yang lumayan terkenal adalah Originals: How Non-Conformists Move the World. Kentara banget sih kalo yang nulis adalah akademisi. Bukunya penuh dengan data hasil berbagai research yang relevan dengan bahasan. Tapi menurut gw bukunya agak boring sih. Meski di sini banyak ceritanya, tetep agak kaku. Dan sama sekali ga ada gambar. Ada diagram-pun kalo ga salah cuma satu. Makanya gw banyak skip sih di beberapa bab. Meskipun begitu, banyak pelajaran penting di buku ini.

Yang membuat gw tertarik untuk membaca buku ini adalah karena judul dan bahasannya sesuai dengan apa yang diajarkan islam melalui berbagai keterangan tentang membantu, memberi dan berbuat kebaikan untuk orang lain.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Di buku ini, dijelaskan bahwa ada 3 kategori/style manusia berinteraksi.

  1. Giver adalah tipikal orang yang ketika membantu mungkin tidak terlalu memikirkan cost-benefit analysis bahwa apakah yang dia berikan sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Atau bahkan ketika membantu tidak mengharapkan timbal balik apapun.
  2. Taker adalah tipikal orang yang ingin mendapatkan sesuatu lebih banyak daripada yang bisa dia berikan dan meletakan kepentingan pribadi diatas orang lain. Takers percaya bahwa dunia sangat kompetitif, "dog-eat-dog" place. Mereka merasa bahwa untuk sukses, dia harus lebih baik daripada yang lain. Untuk membuktikan kompetensinya, mereka self-promote dan make sure mereka mendapatkan credit dari semua effort yang dilakukannya.
  3. Matcher adalah tipikal orang yang mengharapkan sesuatu yang seimbang antara apa yang dia dapatkan dengan apa yang dia berikan. Mereka memegang teguh prinsip keadilan dalam membantu orang lain.
3 kategori itu tidak hanya untuk orang-orang yang melakukan sedekah atau ikutan social project, tapi juga untuk kita yang bekerja di sebuah organisasi maupun bermasyarakat. Dari ketiga ketagori itu, mana yang menurutmu yang menjadi paling sukses di karir/kehidupan?

Di awal bab penulis menceritakan kisah tentang entrepreneur yang sedang mencari dana dan seorang investor. Dikisahkan bahwa investor di cerita itu adalah seorang giver. Dan karena dia giver, dia mendapatkan hasil yang kurang begitu menguntungkan. Di cerita ini seolah menunjukan bahwa menjadi giver akan berada di disadvantage situation. Dan tahukah kamu bahwa itu benar adanya! Seorang giver berada di paling bawah tangga kesuksesan pada berbagai bidang penting.

Taker dan matcher berada di level rata-rata tangga kesuksesan. Lalu siapa yang berada di level teratas tangga kesuksesan? Dia adalah giver! Ko bisa gitu ya? Bisa.. karena givers itu bisa dibilang ada dua jenis. Nih gw bikinkan diagramnya.

Ini satu-satunya diagram di bukun ini yang ditampilkan sangat sederhana






Gw coba rangkum bedanya ya:

  1. Selfless givers adalah orang yang mengutamakan kepentingan orang lain tapi sangat menyimpan kepentingan diri pribadinya jauh dibawah itu. Mereka memberikan waktu dan energi mereka tanpa memperdulikan kebutuhannya.
  2. Otherish givers adalah tipe givers yang paling baik. Mereka membantu orang lain, bahkan tanpa pamrih namun tetap memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan dirinya. Insted of pusing dengan self-intreset dan other-interset, mereka kadang mengintegrasikan keduanya sehingga menjadi sesuatu yang lebih baik. Misal nih kita mau berbuat baik untuk bantu anak jalanan belajar membaca. Selfless giver mungkin saja melakukannya pulang sekolah/kuliah/kerja, padahal belum makan dan ada beberapa janji ketemu orang. Yang akhirnya meski melakukan hal yang baik, kita mengorbankan hal baik lainnya.  Otherish mungkin punya strategi yang baik untuk melakukan hal itu, dia akan membantu anak jalanan itu setelah makan dan komunikasi untuk reshcedule janjian sama orang.
Dan kategori orang yang levelnya paling tinggi di tangga kesuksesan adalah mereka yang otherish givers.

Jika sebelumnya kita tahu bahwa yang ngedrive kesuksesan adalah hal-hal yang fokus kepada diri kita seperti passion, hard work, talent dan keberuntungan. Kini tidak hanya itu. Kesuksesan sekarang juga ditentukan dari bagaimana kita berinteraksi dengan yang lain. Buku ini coba membuktikan bahwa dengan berbuat baik dan menjadi giver tetap bisa menjadi sangat sukses. Untuk cerita lebih dalam mengenai apa yang ada di buku ini, silahkan beli di toko terdekat atau pinjem temen. hehe

Islam telah mengajarkan kabaikan ini sejak lama, Barat baru belakang ini saja menyadari hal ini. Dan sudah seharusnya lah kita menerapkan dan mempromote hal ini lebih dari yang dilakukan mereka. Menanggapi pandangan Barat yang sesuai dengan islam menurut gw bagus, karena mereka selalu membuktikannya dengan hasil research. Menjadi pelengkap referensi kita bahwa sikap giver bisa menjadi giver yang sukses apapun profesi kita.

Karena penulis juga adalah Ph.D. in organizational psychology, ga heran kalo di dua bukunya, dia bikin online assesstment, dan gw sudah coba ngambil dan ini hasilnya.

Mudah-mudahan bener ya kenyataannya! Amin


Jadi kamu giver, taker atau matcher?


Designed By Seo Blogger Templates