Friday, July 8, 2016

Move to Wordpress: new.sutisnamulyana.com

cdn.colorlib.com

I'm using Blogger for more than 3 years. I use Blogger because it can hosted on Google server and masking with my own domain. So i don't have to worry about space in my hosting. But for many years, theres no improvment on this platform. I understand why Blogger is not priority for Google, because they already have a lot of new exciting projects to do. So i decided to testing my blog on Wordpress since I already have experience using Wordpress for many projects.

Check my new blog here at: http://new.sutisnamulyana.com
Read More

Monday, July 4, 2016

Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World


Beberapa bulan yang lalu, temen saya Gilang pernah ngasih tau mengenai Blinkist.com, sebuah web yang menyediakan summary dari buku nonfiksi. Dengan Blinkist, kita menjadi lebih cepat mengambil intisari dari buku yang ingin kita baca. Salah satu rangkuman dari buku yang saya baca adalah bukunya Robert T. Kiyosaki, yaitu Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World dimana ia terkenal dengan sejak bukunya Rich Dad, Poor Dad yang rilis tahun 1998.

Bukunya terlalu powerful untuk tidak dibagikan, untuk tidak diikat melalui tulisan. Saya coba sadur dan terjemahkan sebiasanya saya. 

***

Kenapa gap antara si miskin dan si kaya begitu besar?

Kebanyakan orang masih berfikir bahwa jalan untuk menjad kaya adalah sekolah setinggi-tingginya, dapatkan pekerjaan bagus dan bekerja keraslah. Sebenarnya, bahkan sebuah pekerjaan dengan gaji tinggi sekalipun tidak akan membuatmu kaya. Karena sederhananya, sistem keuangan kita sekarang tidak diciptakan untuk membuat kita kaya dengan cara seperti itu. Hanya ada satu cara yang akan benar-benar membuat kita kaya: dengan memiliki dan mengembangkan aset.


Sistem ekonomi sekarang berdasarkan inflasi

Peribahasa “Yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya”, seperti memang ada benarnya. Untuk masyarakat biasa, sistem inflasi merampas kesejahteraan dari mereka. Karena sederhananya inflasi adalah proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Artinya uang yang kita usahakan dengan keras, perlahan nilainya semakin berkurang.

Untuk cari tahu lebih lanjut mengenai Inflasi cek artikel di Wikipedia ini.

Kebanyakan orang tidak mendapatkan pendidikan yang layak mengenai keuangan

Presepsi orang mengenai menjadi sejahtera tentu berbeda-beda. Namun satu yang pasti, semua orang ingin sejahtera. Tapi sayangnya sekolah justru mengajarkan orang-orang untuk menjadi miskin. Pendidikan modern didesain untuk menjadi orang-orang menjadi pekerja, pembayar pajak dan konsumen. Beberapa orang berfikir bahwa solusi untuk kemiskinan adalah pendidikan yang lebih baik: jika kamu belajar lebih giat, kamu akan mendapatkan pekerjaan yang baik dan menghasilkan lebih banyak. Sekolah tidak mengajarkan siswanya untuk membuat uang di dunia ini - sekolah juga tidak menyediakan  pendidkan mengenai keuangan. Karena kurangnya pendidikan ini juga yang menyebabkan kebanyakan orang salah arti mengenai uang dan kesejahteraan. Kebanyakan orang berfikir bahwa orang yang sejahtera itu jahat dan membuat orang lain miskin. Mungkin ada benarnya juga, tapi tidak selalu seperti itu. Ada juga orang yang menjadi kaya karena dia berbuat banyak kebaikan.


Kamu tidak akan menjadi kaya tanpa pengetahuan soal finansial

Ketika orang-orang mengatakan kamu harus berpendidikan dan sejahtera, biasanya artinya mereka menyuruhmu menempuh pendidikan di universitas. Yang sebetulnya kamu butuhkan adalah pendidikan finansial.

Sekolah tidak mengajarkan pendidikan finansial karena itu terlalu powerful. Pendidikan finansial artinya pendidikan yang keluar dari pengetahuan tradisional dan mendapatkan pengetahuan baru yang dibutuhkan untuk membuat lebih banyak assets - ini memiliki power untuk menjadikan kamu sejahtera. Waktu dulu, budak tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, karena itu terlalu powerful untuk menyaingi pemilik budak. Sekarang, kebanyakan orang dihindarkan dari pemahaman pendidikan finansial untuk alasan yang sama.

Sejahtera yang sebenarnya bukan mendapatkan uang yang banyak - itu adalah pemahaman yang salah lagi. Menjadi sejahtera adalah memiliki assets yang memberikan kita uang tanpa kamu harus bekerja untuknya. Kamu membutuhkan pendidikan bagaimana untuk bisa membuat assets.

Jika kamu membeli sebuah rumah tua, lalu memperbaikinya dan menyewakannya, kamu berarti memiliki assets. Kamu akan mendapatkan uang dari yang menyewa rumahmu tanpa harus bekerja untuk itu.

Orang-orang yang belum pernah mendapatkan pendidikan finansial hanya tau pemasukan dan pengeluaran. Makanya banyak yang salah pamahaman soal assets.


Analisa kondisi finansial kita, lalu mulailah membangun assets

Mungkin kamu berfikir bahwa untuk tahu apakah seseorang itu kaya atau miskin itu mudah, tapi sebetulnya tidak semudah yang kamu pikirkan. Kamu bisa saja tetap miskin meski hidup di rumah yang bagus dan mengendarai mobil mewah.

Jika kamu ingin mengubah kondisi keuanganmu, yang harus kamu lakukan adalah mengetahui bagimana kondisi keuangan kamu. Kamu membutuhkan income statement, dimana kamu menuliskan pemasukan dan pengeluaran, dan balance sheet dimana kamu dapat memantau assets dan liabilitas.

Cara terbaik untuk merencanakan masa depan adalah memilih antara 4 class assets, yaitu bisnis, real estate, paper dan komoditi. Pilih salah satu dimana kamu sangat tertarik - karena akan berbeda ketika kamu melakukan sesuatu yang kamu minati.

Setelah melakukan analisa kondisi finansial kamu, waktunya untuk kamu fokus dalam mengakusisi assets baru - meskipun kamu belum tahu bagaimana caranya!

Mengakusisi assets adalah langkah pertama, untuk masa depan kamu yang lebih sejahtera!


Pilih masa depan yang kamu inginkan - lalu perjuangkanlah!

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, mendapatkan gelar akademik tidak serta merta membuat kamu sejahtera. Pendidikan finansial adalah kunci untuk sukses, tapi darimana kita bisa mulai belajar?

Pertama, kamu harus mencari tahu masa depan seperti apa yang kami inginkan. Ingatlah bahwa menjadi sejahtera bukan hal yang terpenting di dalam hidup. Beberapa orang lebih menikmati bekerja jam sembilan pagi hingga jam lima sore untuk seumur hidupnya daripada mendapatkan karir cemerlang.

Jika kamu ingin hidup lebih sejahtera, bagaimanapun, bekerja jam sembilan pagi hingga jam lima tidak akan membuatmu mencapai itu. Jadi, mulai pikrikan mengenai masa depan yang cocok untuk kamu dan perjuangkanlah.

Dan kamu tidak bisa sukses di bisnis yang besar atau berinvestasi secara professional tanpa pendidikan yang tepat mengenai hal itu. Kamu membutuhkan kemampuan sebagai seorang entepreneur.

Salah satu kunci pembeda antara entepreneur dan mereka yang self-employed adalah bahwa entepreneur itu generalis. Artinya mereka tahu banyak hal meskipun sedikit-sedikit. Untuk mengerjakan hal yang spesifik, enteprenerus sebaiknya hire spesialis.  Karena ketika memulai bisnis, mereka bertanggung jawab pada setiap bagian: mulai dari mengembangkan produk hingga memimpin tim.

Bekerjasamalah dibandingkan berkompetisi. Mental kebanyakan karyawan membuat seseorang berpikir mereka harus berkompetisi dengan rekan kerjanya untuk menjadi unggul, itu bukan mindset yang kita inginkan di dalam tim kita. Entepereneur yang baik tahu bagaimana menuntun timnya untuk sukses.


Pelajari kemampuan berfikir yang dapat langsung diprakterkan melalui pengalaman dan berlatih

Salah satu perbedaan terbesar antara si kaya dan si miskin adalah intelektulitasnya, tapi bukan intelektual yang diukur di sekolah formal. Kamu mungkin mengukur intelektual seseorang di sekolah jika mempunyai ingatan yang bagus dan menulis dengan cepat, tapi pada kenyataannya, justru bukan kemampuan seperti itu yang bisa membuatmu sukses.

Untuk entepreneur, intelektual adalah mengenai menghadapi resiko, belajar dari kesalahan dan tetap semangat. Entepreneur membangun bisnisnya dari bawah menggunakan kemampuan praktikal yang lebih penting ketimbang mengingat siapa presiden Amerika ke 36.

Jadi, bagaiaman mengakusisi skill tersebut? Kamu bisa belajar dari coach atau teman, atau dengan mengambil kursus dari ahli. Lalu gunakan skill yang kamu dapatkan dengan memperaktekannya.

Karena itulah, kita akan belajar jika kita melakukanya - dengan pengalamanlah semuanya akan berada di memori kita, buka informasi yang kita ingat untuk ujian tertulis. Dan dengan memparktekannya dengan sering, mungkin saja kita melakukan kesalahan, kesalahan yang tidak akan kita ulangi. Terima kasih untuk pengalaman yang buruk. Di sekolah, kita dihukum untuk kesalahan kita; kemudian kita berfikir seseorang yang mendapatkan hukuman itu adalah hanya orang-orang bodoh. Nyatanya, mungkin bisa saja sebaliknya.

Jangan takut akan hutang - ambilah untuk membuat assets!

Kebanyakan orang mungkin befikir untuk menghindari hutang. Bekerja keras, dan jauhi hutang dan kamu akan baik-baik saja. Tapi untuk entepreneur, hutang akan menjadi teman baru.

Berhutang bisa menjadi alat yang powerful yang berpengaruh. Kebanyakan orang berasumsi bahwa jika mereka bekerja keras, mereka akan menghasilkan uang lebih banyak dan menjadi kaya. Faktanya, justru bisa terjadi sebaliknya: mereka harus membayar pajak lebih tinggi dan menghasilkan lebih sedikit.

Jika kamu ingin lebih sejahtera, carilah cara untuk mendapatkan lebih dengan sedikit. Pernah berfikir bagaimana musisi yang bernyayi live menjadi menjual CDs? Mereka menjual lebih banyak musiknya dengan melakukan lebih sedikit pekerjaan.

Hutang bisa membantumu dengan cara yang mirip. Di dunia finansial, itu bisa sangat powerful karena dapat membuatmu melakukan hal tanpa kamu harus menabungnya terlebih dahulu.

Jadi, ambilah hutang untuk membuat assets untuk dirimu. Pemikiran tradisional mungkin befikir kamu harus bekerja keras, kumpulkan uang dan beli assets tanpa pinjaman, tapi kadang tidak semudah itu. Kebanyakan orang tidak bisa menyimpan cukup uang untuk membeli assets berharga - akan lebih make sense untuk mewujudkannya dengan mengambil pinjaman.

Ringkasan final

Sistem moneter sekarang memaksa working-class untuk sulit mendapatkan kesejahteraan, dan sistem pendidikan membuat mereka tidak bisa menghentikan apa yang terjadi. Jika kamu ingin lebih sejahtera, cari tahu apa assets class yang sesuai untuk kamu. Lalu lakukan riset bagaimana untuk mengakusisi assets dengan mengambil hutang. Stir dirimu melalui masa depan yang kamu inginkan.

Actionable advice


Mulailah membaca publikasi yang berhubungan dengan finansial seperti Wall Street Journal dan pelajari istilah yang tidak kamu tahu. Jika kamu mempelajari 2 kata tiap hari, kamu akan belajar 60 kata dalam satu bulan!

Bonus

Viddeo wawancara Robert T Kiyosaki di Oprah Show



Image: theempowermag.com
Read More

Wednesday, June 15, 2016

Indonesia is The Next China, a Speech from Man of Ideas


Sejak Leap Up membantu project revamp website barunya Marketeers.com, tiap bulan saya berkesmepatan untuk membaca majalah Marketeers. Edisi Juni 2016 ini, topik utama yang dibahas adalah mengenai China 2.0, soal bagaimana perusahaan dari Tiongkok melakukan transformasi dari yang sebelumnya terkenal dengan harganya yang murah dan kualitas murahan, yang kini menjadi perusahaan yang harga terjangkau namun dengan kualitas bersaing.

Selain temanya sangat menarik, yang paling menarik buat saya adalah bagian rangkuman speech Pak Mochtar Riady di Jakarta Marketing Week bulan lalu. Saking sukanya, saya berkali-kali baca bagian itu. Karena suka, saya ingin menyalinnnya di sini, sehingga sewaktu-waktu bisa saya baca kembali dan pembaca Blog saya juga bisa membacanya. Speechnya sangat inisghtful dan positif! Silahkan disimak.

Indonesia is The Next China

Mochtar Riady, born Li Wenzheng, turns 87 in May this year. He is the founder of the Lippo Group, one of Indonesia's most powerful conglomerates. Born and raise in the Indonesian city of Batu, Malang, in a family from East China's Fujian province, he received his higher education from the erstwhile National Central university located in Nanjing, China in the 1940s. He moved to Jakarta in 1954 to pursue his dream of becoming a banker.

Mochtar Riady turned BCA from a small bank to the largest private bank in the country today, and later built his own, smaller private bank, Bank Perniagaan Indonesia which was merged with another bank to form Bank Lippo (in 2008, Bank Lippo merged with CIMB Niaga, and are known as PT CIMBN Niaga Tbk.). Many consuder him not as just a banker, but the best banker of his generation in Southeast Asia.

However, Lippo is now better known for its real estate investments than for banking. The group has even launched an e-commerce platform called MatahariMall.com that aims to be the number one online commerce portal in Indonesia.

This year, coming sixth on Forbes's Indonesia richest list with a fortune of $ 2.1 billion, he introduced an autobiography titled "Man of Idead" (Manusia Ide). The 336 page book chronicles Mochtar's early days, documenting how he began his business from scratch and crossed generations, industries, nations and cultures, armed only with ideas.

Mochtar Riady recently attended a celebration ceommermorating the 26th anniversary of Markplus,Inc, and gave a warm speech talking about the relationship between China dan Indonesia. Here is an excerpt from his speech, written by Saviq Bachdar from Marketeers.

***

The relations between Indonesia and China have been ongoing for centuries and keep growing year after year. China has also been one of Indonesia's key major trading partners in recent years, serving as the country's largest export-import market.

Before we talk more about it, I would like to describe the whole situation today. We are facing three major changes. First, since January 2016, Indonesia is facing extensive regional integration in the form of ASEAN Economy Community (AEC), followed by the Trans-Pacific Partnership Agreement (TPP), which would help the country attract greater foreign investment to its shores and move away from nationalist economic policies.

It means that the world today is set to face the free 'competition' economy over the next few yers. The competition would allow a large numbers of produces to compete with each other to satisfy the wants and needs of a large number of consumers.

And the Second, we would enter the services-oriented economy in the next few years. Most of us will work with information rather than producing good. As we can see, the service economy sector has cast a tremendous impact on the US economy nowdays.

To leverage both of these situations, we must depend on Information Technology (IT). And it creatoes a new era callled digital economy, an economic system that is based on digital computing technologies.

If we talking about free competiton, we are talking about the comparison of production cost among countries. We know that the U.S, followong the Second World War and starting 1947, begang rapid invention on IT solutions, such as micro integration or electronic components.

Electronics is generally divided into two categories. One is analog an the other is digital. A telecommunication technology is reffered to as a example of analog technology. Meanwhile, all kinds of everyday electronic items that we use work using digital technology, such as computer. Now, computer and telecommunication can be combined into one, and that's the internet.

Thus, today, the US has transformed into an information society. In 1971, when I was in the US, I read Alvin Toffler's book, The Third Wave, and found it mesmerizing. Three years later, Alvin wrote another book titled Future Shock. One year later, an American author in the area of futures studies, John Naisitt, for the first time, released his book Megatrends. After that, Professor Peter Ducker wrote Post-Capitalist-Society.



Drawing from the concepts in these four books, we could conclude that the US had successed to move their economy from nothern states to the southern states. From Detroit to Sillicon Valley. Today, property price in Sillicon Valley is much higher than that of in New York. This is what acctually happened in the US.

"Indonesia could learn a lot from China when it comes to managing human resources and developing infrastructure"

As the US turned into an information society, the middle class in the country flourished, and the American wages began to increas. Therefore, the labor-intensive industries in the US began moving to the developing countries. During the time, Germany and Japan did the same.

These two countries, also metamorphosed into information societies, thereby having to move their labor industries out to other developing countries. The US companies went overseas to make product and component ship back to the US. They say that moving to cheap-labor-countries like Mexico, India and Indonesia has enabled the US industry to regain its world standing.

In the east. Four Asian Tigers, South Korea, Taiwan, Hong Kong, and Singapore moved out their labour industries to china and South East Asia, including Indonesia. We transformed ourselves from a traditional agricultural society to a modern industrial one. China today has already progressed from an agricultural society to an information society.

While we are talking about China, I remember in 1990, I was invited by the China goverment to visit Beijing. At that time, Beijing did not have a good infrastructure. Everything was so basic. Today, Beijing stands as the dazzling modern city and seat of power of one of the world's strongest economies.

At that time, I Also visited Shanghai with Mr. Sukamdani Sahid Gitosardjono (founder od Sahid Group), staying at a five-star Peace Hotel. What happened was we had to wait for almost four hours only to check in. When entered the hotel room, I found a lot of rats. I was surprised to see how the rats even got in there. That was what really happened in China 25 years ago.

Why did China build its country from Beiking, and not Shanghai? Beijing people are people if the past. What modern day Beijing today is was an ancient city called Yanjing. A decade ago, the population of Beijing was only 20.000. Most of them were fishermen. Beijing was like a white paper. It was easy for everybody to write a new story.

Here, we can understand that in order to build an ecnomy that involves 1.3 billion people, it can begin from small thing. Beijing is clearly undergoing massive transformation right now, from infrastrcuture, urban development economoy, to labor industry.

Indonesia could learn a lot from China when it comes to managing human resources and developing infrastructure. I believe, under President Mr. Joko Widodo's master plan, over the next ten years, we will experiences growth rate of 10% in GDP.

In the erly 2000s, China overtook the US as the world's largest receipient of foreign capital. This was what we called China's Great Victory. Today, I would like to say, ten years later, it will be time for Indonesia's Great Victory.




In the next ten years, either US President or China President, if they would like to talk about the world economy and world affairs, I can definetly say that President of Indonesia will be invited for the discussion.

***

War biasa! War apa war apa? War biasa!
Disalin dari Majalah Marketeers edisi Juni 2016 (China 2.0: Our Turn to Copycat Them?). Like Marketeers di Facebook.

Cover photo dari Marketeers.com

Read More

Saturday, May 28, 2016

The Wisdom and Teaching of Stephen R. Covey


I have just finished a book today. It's "The Wisdom and Teaching of Stephen R. Covey" which I bought for only IDR 70k at Big Bad Wolf Book Sales.

This book contains the cyrstallized wisdom of one of the great teachers of our time, Dr. Stephen R. Covey. Compiled from various books and articles. Arranged under the decisive principles of life such as intergrity, life balance, vision, love, leadership and so on.

Too many great wisdom I got today from this book. These are my favorites:

"The key is not prioririze what's on your schedule, but to schedule your priorities"

"Happines, like unhapiness, is a proactive choice"

"The key of life is not accumulation. It's contribution"

"The greatest risk is the risk of riskless living"

"People are working harder than ever, but because they lack clarity and vision, they aren't getting very far"

"Seek first to understand. Then to be understood"

"In the Industrial Age, leadership was a position. In the Knowledge Age, leadership is a choice"

"If you want to be trusted, be thrustworthy"

#book #leadership #stephenrcovey #sebarkansemangatmembaca #metagraf

Cross-posted with my instagram account @sutisnamulyana
Read More

Monday, May 23, 2016

Eksistensi Rossa adalah mengenai menghargai orang lain


Hari ini bisa dibilang puncaknya berbagai rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Sumedang ke-438. Karena Sumedang kedatangan Putri daerah kebangaanya, Teh Oca (Rossa) yang bukan hanya telah menjadi milik Sumedang tapi juga milik Indonesia.
Pencapaian yang telah dilakukan oleh Teh Oca adalah akumulasi dari pengalaman dan kegagagalannya. Album pertama yang berjudul Untuk Sahabatku yang rilis tahun 1988 saat masih umur 10 tahun gagal mendapatkan perhatian dari khalyak. Jika waktu itu Teh Oca dan keluarga menyerah dan tidak mencoba lagi, mungkin kita tidak akan pernah mendengar lagu-lagu hitsnya sekarang. Kegagalan selalu ada untuk kita lewati menuju kesuksesan!
Teh Oca yang lahir di Sumedang pada Oktober 1978 ini adalah gadis daerah biasa yang mempunyai mimpi akan pencapaian terbaiknya sebagai penyanyi. Bedanya, ia  memperjuangkan yang terbaik hingga menjadi penyanyi tersohor hingga negeri Jiran.
Meski sempat bertemu di beberapa kesempatan, namun ini adalah kali pertamanya saya nonton teh Oca menyanyi secara langsung. Semua orang pasti gampang suka sama Teh Oca, meski ga kenal secara pribadi, tapi auranya cukup menjelaskan bahwa ia adalah pribadi yang luar biasa positif. Di sela-selanya bernanyi, Teh Oca berpesan bahwa kunci dari kesuksesannya adalah menghargai orang lain.  Saya rasa itu benar, eksistensi yang didapatkan Teh Oca sejauh ini bukan hanya soal keberuntungannya atau kemampunannya dalam bernyanyi saja tapi justru karena attitude/sikapnya lah yang membuatnya semakin dicintai.  Jika bicara kemampuan, saya yakin banyak penyanyi Indonesia lain yang lebih jago dari pada Teh Oca.
Mudah-mudahan pulangnya Teh Oca hari ini bukan hanya sekedar nyanyian merdunya saja yang kita nikmati, tapi juga makna yang bisa kita resapi untuk berbagai mimpi, pencapaian dan kontribusi yang ingin kita lakukan untuk dunia.
Cross-posted di Sumedang Creative
Photo credit: trinityproduction.com
Read More

Sunday, May 22, 2016

Sesi Pilihan Google I/O 2016: Yang Terbaru dari Web Technologies


Semaleman kemarin saya begadang sampe kurang lebih jam 3an. Bukan karena keasyikan ngoding, tapi karena betah explore berbagai video dari sesi Google I/O 2016, terutama yang berhubungan dengan web technologies.

Dengan melihat lagi berbagai update dari perkembangan web, saya seperti menemukan semangat dan kebanggan saya sebagai web developer. hehe Jadi inget zaman-zaman dulu ketika sangat rajin beresperimen dan eksplor. Rasanya pengen kembali rajin karena udah lumayan ketinggalan jauh.

Beberapa highlight teknologi terbaru yang menurut saya penting diikuti:

1. The Physical Web

Dilihat dari definisi di webnya, "The Physical Web is an open approach to enable quick and seamless interactions with physical objects and locations". Teknologi ini menggunakan Bluetooth Low Energy (BLE) beacon dengan format standar yang dibuat Google, yaitu Eddystone.

Intinya dengan teknologi Physical Web ini, suatu lokasi atau benda dapat mengirimkan broadcast URL ke device terdekatnya sesuai dengan konteks yang diinginkan. Analoginya seperti ini, misalnya kita datang ke museum dan melihat suatu benda yang menurut kamu menarik, kamu ingin sekali mengetahui lebih lanjut mengenai benda tersebut. Dengan Physical Web, beacon akan mengirimkan (broadcast) URL spesifik untuk benda yang ada di dekat kamu. Kamu harus cek lengkapnya di video berikut dan lihat berbagai contoh pemanfaatan teknologi ini in real world.


2. Mobile Web

Dengan berbagai gempuran mobile apps, justru mobile web semakin memiliki masa depan cerah. Sesi The Mobile Web: State of the Union yang disampaikan oleh Rahul Roy-chowdhury, VP Product Management, Chrome bikin saya "loncat-loncat" excited betapada dia meyakinkan soal masa depan kemudahan mobile web. Di sesinya ini, Rahul menjelasakan mengenai Accelerated Mobile Pages (AMP) dan Progressive Web Apps.

Accelerated Mobile Pages (AMP) adalah open source project yang melibatkan banyak sekali publisher dunia yang berupaya untuk menyediakan konten dengan lebih cepat. Mungkin kamu sering menemui card yang muncul di Google ketika mengaksesnya di mobile, nah itu salah satu dari output AMP.



"Progressive Web Applications take advantage of new technologies to bring the best of mobile sites and native applications to users. They're reliable, fast, and engaging". Sedangkan Progressive Web Applications adalah era baru mobile web yang memiliki fitur dan memberikan experience seperti native app, seperti offline, fast loading, push notification, add to home screen icon dsb.

Salah satu contoh dari Progressive Web Application adalah web nya Google I/O itu sendiri yang dibahas di sesi Building the Google I/O Web App: Launching a Progressive Web App on Google.com dengan sangat passionate oleh Eric Bidlman, salah satu developer idola saya dari zaman baheula.

Selain web Google I/O 2016, contoh dari implementasi Progressive Web App adalah The New York Times dan ada karya anak bangsa yaitu Jalan Tikus yang difeatured di Google I/O.  

3. Real Time Database (Firebase)

Salah satu teknologi yang digunakan di webnya Google I/O adalah realtime database menggunakan Firebase. Ini adlaah teknologi pendukung yang cocok untuk pengimplementasian Progressive Web App, jadi perlu untuk dicoba dan dipelajari. Firebase juga seolah menjadi primadona di Google I/O kali ini karena salah satu produk yang memiliki significant major updates seperti adanya integrasi dengan Admob untuk monetisasi dan disediakannya fitur analytics spesific untuk Firebase.

Tal Oppenheimer

Selain 3 teknologi itu, sesi yang menurut saya penting untuk ditonton juga adalah Building for billions on the web. Kamu bakal dapet banyak insight soal perkembangan web technologies. Meski intinya memang kebanyakan teknologi yang sudah saya sebutkan diatas.

Sesi bonusnya adalah Learning to speak Designer. Sejak Google memiliki divisi Design dan punya Material Design System, penting untuk developer tau perkembangannya karena user experience signifikan pengaruhnya untuk web kita.


Kamu juga bisa cek playlist untuk video sesi Google I/O pilihan versi saya
Read More

Friday, May 20, 2016

Rekap Google I/O 2016



Yeay Google I/O lagi. Bedanya tahun ini, gw engga jadi MC di Google I/O Extended kaya dua tahun sebelumnya. Karena sudah ga di Jakarta dan ga terlibat langsung dengan Google Developer Group. Pun begitu tidak mengurangi antusias saya untuk ngikutin perkembangan terbaru Google melalui konferensi developer terbesarnya, Google I/O.

Yang beda dari Google I/O tahun ini adalah tempat pelaksanaannya di outdoor, lalu kamu juga bisa nonton live secara 360 derajat di Youtube. Tentu bakal lebih mantap kalo misalnya pake Virtual Reality (VR) headset kaya Cardboard atau Octagon VR Luna yang baru saja gw beli.

Gw coba rekap apa saja yang baru dari Google yang gw pahami di sesi keynote kemarin:

Google Assistant

Since Google mengorganize milirian informasi di internet, Google lebih pintar dari kita menjawab berbagai pengetahuan umum. Misalnya sesimpel ketik "indonesia president" di Google maka dia akan langsung memberikan informasi dalam bentuk kartu atau knowledge card.



Pencarian seperti itu bisa menggunakan voice command dengan Google Now. Di I/O kemarin , Google mengumumkan Google Assistant sebagai upgrade dari Google Now yang lebih canggih. Seperti misalnya Assisant dapat mengerti voice command yang kita berikan secara conversational. Artinya dia akan mengerti konteks dari apa yang kita bicaranya berdasarkan runtutan informasi yang kita berikan. Dia akan mengerti Siapa president Indonesia? "Joko Widodo", Berapa umurnya? "54". Meski tidak disebutkan Joko Widodo, dia akan mengerti bahwa yang kita maksud adalah Joko Widodo.

Kalo kamu pernah tau YessBoss atau Diana, Google Assistant gw rasa akan kaya gitu. Nantinya Google Assistant ini bisa beliin tiket bioskop. Dengan machine learning, artificial intelegence & natural processing technology, tekologi yang awalnya cuma khayalan bisa menjadi kenyataan.

Cek selengkapnya soal Google Assistant di artikel ini atau video ini.

Google Home


Beberapa waktu yang lalu Google mengakusisi Nest, perusahaan yang memproduksi home automation device. Yang gw kagum sama Google, dia pinter mengintegrasikan semua hal dimilikinya. Google Home adalah gabungan dari Cast,  Assistant dan Nest untuk integrated solution di rumah. 

Allo & Duo

Meski bukan jenis produk yang baru apps untuk komunikasi ini tetap menarik. Allo untuk chat text dengan dilengkapi dengan sticker dan menggunakan modul machine learning yang dimiliki Google. Untuk Allo sebetulnya gw masih bertanya kenapa fitur-fitur itu tidak diterapkan di Hangout saja.



Sedangkan Duo adalah simple one-to-one video calling yang cepat, Mirip seperti facetime. Kalo untuk ini saya mengerti kenapa ga dimasukan ke Hangout karena ini lebih simple dan untuk personal use. Kedua aplikasi ini hanya menggunakan nomor telfon seperti Whatsapp .

Android N

Ada beberapa update dari Android N yang lumayan keren. Salah satunya adalah Android Instant App dimana kita bisa mengakses app tanpa install namun dengan experience yang sama dengan native apps. Di Andorid N kedepannya update sistem operasi juga lebih cepat, tidak harus restart seperti sekarang. Ada banyak emoji baru yang represent professional women. Dan kita bisa suggest apa nama dari Android N (jangan lupa cek video keren ini :D)

Juga ada update dari Android Wear 2.0, salah satunya ada standalone application yang dimana penggunaannya tidak memerlukan smartphone lagi.

Virtual Reality

Setelah dua tahun merilis Cardboard, yang menurut gw sukses menjadikan VR viral karena bisa merasakan experience VR dengan murah. Di I/O ini, Google mengumumkan Daydream, sebuah platform untuk mobile virtual reality. Dilengkapi dengan controller dan konten yang lebih banyak menjadikan Day Dream pasti ditunggu-tunggu VR dan Google fan.

Firebase update!


Salah satu product untuk developer yang memberikan signifikan updates di Google I/O ini adlaah firebase. Karena gw belum penjadi pengguna Firebase, jadi gw ga tau banyak. Yang jelas dia rilis analytics dan integrasi dengan Adwords.

Lengkapnya di keynote video berikut


Makin exciting ya! Mudah-mudahan segara bisa dateng langsung kapan-kapan kalo ada rezekinya. Amin..
Read More

Thursday, May 12, 2016

Inilah kenapa financial literacy penting dipelajari sekarang!


Gw pernah denger mitos bahwa orang Sunda itu cenderung boros dan ga bisa nabung. Gengsinya tinggi dan mengutamakan penampilan. Makanya saking pengen gaya, ya ga ada uang buat ditabung. Tanpa bermaksud sara dan generalisasi tentunya, tapi gw memang mengiyakan mitos itu.

Dulu pas gw ngontrak di rumah sebelumnya, gw punya tetangga. Mereka adalah keluarga jawa yang merantau di Sumedang. Meski kita tetanggan, gaya hidup kita beda. Mereka serba berkecukupan tapi tetap sederhana, beda dengan gw yang gaya hidupnya udah daei dulu agak neko-neko. Seperti misal gadget harus standar terbaru dan baju harus dari distro. Tetangga saya itu adalah penjual bubur kacang dan punya usaha menyewakan becak tapi suami dan istri sudah naik haji. Beneran loh sinetron tukang bubur naik haji tuh kejadian sama tetangga gw. Nah keluarga gw sampe sekarang belum ada yang naik haji, atau setidaknya umroh lah. Belum ada!

Dari menarik kesimpulan pribadi bahwa, perbedaan itu ada karena perbedaan dari mengelola uang. Dan gw ingin keluar dari mitos orang Sunda diatas yang sempat gw yakini.

Pas berkunjung ke Big Bad Wolf Book Sales di ICE - BSD City, gw menemukan satu buku tipis dengan judul "Save Your Money!" Bebas Utang, Banyak Uang. Dari judulnya aja gw ga mikir lagi bahwa ini buku yang gw butuhkan.

Financial literacy (sederhananya melek soal finansial/keuangan) menjadi sangat penting buat gw, karena gw harus bisa menjaga cash flow perusahaan yang sedang dirintis. Meski dibantu sama istri, tetap saja pengetahuan kita soal keuangan dan akuntansi masih di bawah rata-rata. Ditambah gw juga harus ngerti gimana mengelola keuangan keluarga, management utang yang beberapa kasih harus dilunasi.

Buku yang gw beli 5000 rupiah ini memberikan tambahan insight buat gw belajar financial literacy, diantaranya:

1. Utang
itu ada dua jenis. Ada yang jenisnya konsumtif, ada yang produktif. Kalo komsumtif itu adalah sesuatu yang ketika lo beli, harganya akan terus turun. Misal gadget, elektronik, makanan, pakaian dll.

Kalo yang produktif, adalah yang bersifat investasi. Harganya kedepannya akan naik dan terus memberi manfaat. Seperti tanah, emas dll.

Beberapa barang yang gw punya, banyak yang hasil ngutang. Seperti Smartphone Nexus gw pas beli harga 5 juta, dicicil 12x, laptop Macbook Air harga 15 juta-an dicicil 4x. (Thanks to my prev bos to help me on these). Meski masuk ke barang konsumtif, itu tetep gw jadikan produktif, karena berdampak langsung sama produktivitas gw dalam bekerja. Bayangkan aja kalo misal gw masih pake laptop yang lama...

Kalo kita punya cicilan, jangan lebih dari 36% dari pendapat per bulannya supaya bisa stabil.

2. Pengeluaran
Ini juga jenis kan macem-macem ada yang wajib, primer, nabung/investasi, sekunder. Gw kadang uang habis di hal yang sekunder ketimbang konsisten dengan investasi.

Gw pribadi harus lebih bijak dan menimbang-nimbang ketika membeli sesuatu karena sadar gw harus merencanakan masa depan (dana pendidikan pribadi, anak, rumah, dana pensiun dsb). Jika tidak dikelola dari sekarang, gw tidak akan pernah merasa cukup, seberapa besarpun pendapatan gw.

3. Rencana Pelunasan Utang
Untuk yang satu ini, gw sudah agak mending. Karena dari sejak dulu gw punya tabel monitoring untuk utang. Jika lo belum punya bisa mulai bikin. Dengan begini, kita jadi punya gambaran jelas berapa lagi yang harus dibayar, kapan harus dilunasi dan jika mau mempercepat pelunasa harus seperti apa.



Karena gw anaknya Google banget, gw bikin monitoring utangnya di Spreadsheet. Sebetulnya kalo lo ga terbiasa, bisa juga cek aplikasi related to utang management seperti lunas.in misalnya.

Mudah-mudahan istikomah ya belajar financial literacy-nya.

Ditulis di bus Primajasa perjalanan Cileunyi-Lebak Bulus.
Cover photo: finlitkids.com
Read More

Monday, May 9, 2016

My Nexus' Photosphere

Balangan Beach
Is one of beautiful beach at Badung, Bali. I visited here a year ago and captured pictures include Photosphere using my Nexus 5.



Check Photosphere: https://goo.gl/nJQPty
Read More

Saturday, April 2, 2016

Google for Mobile Indonesia: Summary


Pada tanggal 31 Maret 2016 kemarin, gw dan co-founder di Leap Up berksempatan untuk menghadiri event Google for Mobile yang diselenggarakan pertama kalinya di Indonesia. Sebetulnya event dengan konten serupa pernah dibikin oleh Google, seperti Google Developer Summit tapi ini lebih besar. Setidaknya begitu yang saya pikir pada saat melihat list pembicaranya yang separuhnya dikirim langsung dari luar.

Lewat posting kali ini gw mau share mengenai apa yang menurut gw menarik dan penting untuk dibagikan.

The Indonesia mobile story


Ini adalah sesi pembuka dari Google for Mobile, gw selalu suka ketika Mbak Veronica Utami (Head of Marketing, Google Indonesia) menyampaikan keynote. Pertama kali denger keynotenya adalah waktu event Google Partner dimana beliau baru saja menjabat.

Dari keynote yang diberikan banyak banget insight yang bikin lo ngangguk terus mengenai pertumbuhan internet dan mobile di Indonesia yang akan semakin merajalela. Ini adalah opportunity yang ga boleh dilewatkan oleh developer. Cek beberapa insight dari slide yang temen saya foto.


Develop, Engage & Earn



Setahu gw, sejak I/O tahun lalu Google menggunakan term Develop, Engage dan Earn sebagai temanya dan memisahkan beberapa pembahasan dalam pengembangan suatu produk/apps. Dan di Google for Mobile term itu juga kembali digunakan untuk memisahkan track/sesi. Develop jelas pembahasannya gimana eksekusi produknya dan bahasannya lebih teknikal. Sedangkan track Engage bahas setelah produk jadi untuk gimana supaya dapat lebih banyak install dan pengguna terus menggunakan produk kita. Di tahap Earn tentu saja bahas soal gimana semua pengguna apps kita dikonversi menjadi pembeli dari berbagai strategi monetisasi yang ada di apps kita. Karena gw pilih Engage, jadi yang dishare di sini lebih banyak track itu ya.

Inspirasi dari Founder Half Brick Studio


Sesi terakhir sebelum makan siang adalah sesi "The journey to a billion installs", yang disampaikan oleh Shainiel Deo - CEO and Founder, Halfbrick Studios. Halfbrick Studios adalah studio game yang berbasis di Australia, kalo pernah main Fruit Ninja yang sempet rame dua tahun ke belakang, ini nih mpunya.

Shainiel share cerita bagaimana dia membangun Halfbrick dari awal hingga sekarang menjadi studio game yang melahirkan berbagai game level dunia. Shainiel adalah seorang gamer, ia ingin menciptakan game yang berkualitas dan membangun bisnis yang sukses akhirnya dia memutuskan untuk membuat Halfbrick studio.

Bagian yang menurut gw sangat mencerahkan adalah ketika dia menceritakan perjalan Halfbrick melalui sebuah timeline.



Ceritanya dia seperti meyakinkan gw bahwa untuk menjadi besar, lo harus bisa melewati jalan panjang berliku itu. Halfbrick di awal masa pendiriannya, mereka masih mengerjakan game untuk client. Baru setelah 8 tahun mereka menjadi independent developer yang mengembangkan gamenya sendiri. Cerita ini seperti engage buat gw, karena di tahap awal ini, Leap Up masih kerjain produk clinet. Gw sih jadi lebih semangat untuk jangan lebih lama dari Halfbrick untuk menjadikan Leap Up sebagai independent developer yang mengembangkan produk sendiri.

Selain itu, Shainiel juga singgung sedikit soal startup itu goalnya harus jelas, dan komunikasikan ke team dengan meaningful, sesuatu yang lebih besar dan bukan sekedar meteri. Juga soal membentuk team yang baik (good fit), membangun culture di perusahaan dan saling percaya di dalam tim. Hal-hal bisa dicek di slide yang saya foto ini.

Universal app campaign


Salah satu paid strategy baru untuk tetap engage dengan pegguna App kita adalah dengan menerapkan Universal App Campaign. Ini adalah fitur baru yang ditawarkan oleh Google bagi kita yang mau promote di semua layanan iklannya Google seperti di Search, Google Display Network, Google Play, Youtube dsb dengan satu kali setting. Ini solusi banget sih, meski belum coba. Informasi selanjutnya bisa cek di sini dan di video youtube berikut.

App indexing



Salah satu solusi yang ditawarkan Google untuk supaya pengguna Apps balik lagi, lo bisa menggunakan App Indexing. Misalnya sebutlah Aplikasinya adalah Kompas.com, ketika lo search di Google suatu konten berita dan kebetulan kontennya ada di Apps lo, akan ada hasil yang mengarahkan untuk open Apps lo. Lebih lanjut soal App Indexing bisa dicek di sini.

Google play experiment

Salah satu cara untuk bisa mengoptimalkan presence kita di Google Play adalah dengan menggunakan Google play experiment. Dengan ini kita bisa bereksperimen (ala metode A/B Testing) misalnya menggunakan berbagai icon app dan untuk nyari tau mana yang paling ngedrive installasi. Gitu juga dengan screenshoot dan deskripsi yang bisa dieksperiment kan. Info lengkapnya bisa dicek di sini.

Komitmen Google untuk Indonesia

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Google untuk pertumbuhan startup atau produk berbasis Mobile diantaranya Google Launchpad yang tahun kemarin beberapa startup dari Indonesia ada yang dikirimkan ke Mountaint View untuk mentoring. 

Android Kejar (Kelompok Belajar) adalah program belajar Android yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Cikal bakal dari program ini adalah Indonesia Android Academy yang di tahun lalu gw terlibat dari awal hingga akhir. Kini dibikin lebih keren dan gede hasil dari test pasar Android Academy kemarin.

Lalu program onlinenya adalah Google berkerjasama dengan Udacity untuk menghadirkan pembelajaran online yang bisa diakses secara gratis.


Other things..

Acaranya gede dan dekorasinya keren banget. Ada game cornernya gitu. Makanannya banyak dan enak. Ya ini sih investasi yang ga seberapa buat company segede Google.

Cardboard corner


Ini bisa dimakan!







Reuni sama GSA friends

Dan akhirnya ketemu in-person untuk pertama kalinaya sama cofounder di Leap Up setelah memutuskan barengan merintis. Kita emang kenal gara-gara Google.

One line summary:
Leap Up harus segera bikin divisi yang fokus memaksimalkan potensi Mobile! Semangat!
Read More

Sunday, March 20, 2016

Give and Take: A Revolutionary Approach to Success


Akhir pekan ini, gw lagi mood untuk baca dan nulis. Kemarin dari abis sholat subuh akhirnya bisa kelarin Work Rules dan langsung nulis summarya supaya bisa gampang kalo suatu saat butuh lagi isi bukunya. Hari Minggu ini moodnya masih ada dan akhirnya gw beresin buku Give and Take: A Revolutionary Approach to Success (ini juga hasil pinjeman udah lama banget, sempet dititip lama di kosan temen di Jakarta pas pindahan lagi ke Sumedang).

Buku ini ditulis oleh Adam M. Grant seorang profesor muda di Wharton School of the University of Pennsylvania dan tentu saja seorang penulis. Selain buku ini, buku lain yang lumayan terkenal adalah Originals: How Non-Conformists Move the World. Kentara banget sih kalo yang nulis adalah akademisi. Bukunya penuh dengan data hasil berbagai research yang relevan dengan bahasan. Tapi menurut gw bukunya agak boring sih. Meski di sini banyak ceritanya, tetep agak kaku. Dan sama sekali ga ada gambar. Ada diagram-pun kalo ga salah cuma satu. Makanya gw banyak skip sih di beberapa bab. Meskipun begitu, banyak pelajaran penting di buku ini.

Yang membuat gw tertarik untuk membaca buku ini adalah karena judul dan bahasannya sesuai dengan apa yang diajarkan islam melalui berbagai keterangan tentang membantu, memberi dan berbuat kebaikan untuk orang lain.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Di buku ini, dijelaskan bahwa ada 3 kategori/style manusia berinteraksi.

  1. Giver adalah tipikal orang yang ketika membantu mungkin tidak terlalu memikirkan cost-benefit analysis bahwa apakah yang dia berikan sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Atau bahkan ketika membantu tidak mengharapkan timbal balik apapun.
  2. Taker adalah tipikal orang yang ingin mendapatkan sesuatu lebih banyak daripada yang bisa dia berikan dan meletakan kepentingan pribadi diatas orang lain. Takers percaya bahwa dunia sangat kompetitif, "dog-eat-dog" place. Mereka merasa bahwa untuk sukses, dia harus lebih baik daripada yang lain. Untuk membuktikan kompetensinya, mereka self-promote dan make sure mereka mendapatkan credit dari semua effort yang dilakukannya.
  3. Matcher adalah tipikal orang yang mengharapkan sesuatu yang seimbang antara apa yang dia dapatkan dengan apa yang dia berikan. Mereka memegang teguh prinsip keadilan dalam membantu orang lain.
3 kategori itu tidak hanya untuk orang-orang yang melakukan sedekah atau ikutan social project, tapi juga untuk kita yang bekerja di sebuah organisasi maupun bermasyarakat. Dari ketiga ketagori itu, mana yang menurutmu yang menjadi paling sukses di karir/kehidupan?

Di awal bab penulis menceritakan kisah tentang entrepreneur yang sedang mencari dana dan seorang investor. Dikisahkan bahwa investor di cerita itu adalah seorang giver. Dan karena dia giver, dia mendapatkan hasil yang kurang begitu menguntungkan. Di cerita ini seolah menunjukan bahwa menjadi giver akan berada di disadvantage situation. Dan tahukah kamu bahwa itu benar adanya! Seorang giver berada di paling bawah tangga kesuksesan pada berbagai bidang penting.

Taker dan matcher berada di level rata-rata tangga kesuksesan. Lalu siapa yang berada di level teratas tangga kesuksesan? Dia adalah giver! Ko bisa gitu ya? Bisa.. karena givers itu bisa dibilang ada dua jenis. Nih gw bikinkan diagramnya.

Ini satu-satunya diagram di bukun ini yang ditampilkan sangat sederhana






Gw coba rangkum bedanya ya:

  1. Selfless givers adalah orang yang mengutamakan kepentingan orang lain tapi sangat menyimpan kepentingan diri pribadinya jauh dibawah itu. Mereka memberikan waktu dan energi mereka tanpa memperdulikan kebutuhannya.
  2. Otherish givers adalah tipe givers yang paling baik. Mereka membantu orang lain, bahkan tanpa pamrih namun tetap memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan dirinya. Insted of pusing dengan self-intreset dan other-interset, mereka kadang mengintegrasikan keduanya sehingga menjadi sesuatu yang lebih baik. Misal nih kita mau berbuat baik untuk bantu anak jalanan belajar membaca. Selfless giver mungkin saja melakukannya pulang sekolah/kuliah/kerja, padahal belum makan dan ada beberapa janji ketemu orang. Yang akhirnya meski melakukan hal yang baik, kita mengorbankan hal baik lainnya.  Otherish mungkin punya strategi yang baik untuk melakukan hal itu, dia akan membantu anak jalanan itu setelah makan dan komunikasi untuk reshcedule janjian sama orang.
Dan kategori orang yang levelnya paling tinggi di tangga kesuksesan adalah mereka yang otherish givers.

Jika sebelumnya kita tahu bahwa yang ngedrive kesuksesan adalah hal-hal yang fokus kepada diri kita seperti passion, hard work, talent dan keberuntungan. Kini tidak hanya itu. Kesuksesan sekarang juga ditentukan dari bagaimana kita berinteraksi dengan yang lain. Buku ini coba membuktikan bahwa dengan berbuat baik dan menjadi giver tetap bisa menjadi sangat sukses. Untuk cerita lebih dalam mengenai apa yang ada di buku ini, silahkan beli di toko terdekat atau pinjem temen. hehe

Islam telah mengajarkan kabaikan ini sejak lama, Barat baru belakang ini saja menyadari hal ini. Dan sudah seharusnya lah kita menerapkan dan mempromote hal ini lebih dari yang dilakukan mereka. Menanggapi pandangan Barat yang sesuai dengan islam menurut gw bagus, karena mereka selalu membuktikannya dengan hasil research. Menjadi pelengkap referensi kita bahwa sikap giver bisa menjadi giver yang sukses apapun profesi kita.

Karena penulis juga adalah Ph.D. in organizational psychology, ga heran kalo di dua bukunya, dia bikin online assesstment, dan gw sudah coba ngambil dan ini hasilnya.

Mudah-mudahan bener ya kenyataannya! Amin


Jadi kamu giver, taker atau matcher?
Read More

Saturday, March 19, 2016

Work Rules: Checklist to transform team & workplace


Google menginspirasi gw di banyak hal. Dan Alhamdulillah sejak terpilih jadi Google Student Ambassador gw semakin mengenal Google lebih dekat dan mendapatkan akses ke berbagai hal yang berhubungan dengan Google yang sering juga gw catat di blog ini.

Gw yakin, Google tidak hanya menginspirasi gw, tapi juga jutaan orang di seluruh dunia. Selain berbagai inovasi produknya, yang membuat gw kagum adalah bagaimana mereka memperlakukan orang-orangnya.  Google mendapatkan pengakuan #1 Best Company to Work For di berbagai negara, #1 Top Diversity Employer dan the best company for women in technology.

Sebagai Google fan boy, gw ingin mempelajari lebih dalam bagaimana Google dijalankan dan bagaimana memperlakukan karyawannya. Hal itu sangat relevan karena saat ini gw sedang merintis perusahaan, Leap Up. Hasil pinjem buku Work Rules dari ce Febria, akhirnya gw beresin dalam waktu sebulan 2 minggu. Lama banget sih beresinnya, karena bulan February kemarin banyak interupsi dan karena ini bukunya bahasa Inggris, jadi sambil buka kamus sesekali. hehe

Buku ini ditulis oleh Laszlo Bock, Senior Vice President of People Operations nya Google. Semacam kepala HRD lah kalo di Indonesia mah. Buku ini memang bicara soal Google dari sudut pandang dia sebagai HR, tapi lewat buku ini kita bisa kenal lagi culture-culture yang diterapkan Google seperti keterbukaan dan freedom. Buku ini pas banget dibaca sama founder startup, karena bisa mulai menerapkan ide dan inovasi people operation Google meski di tim yang masih kecil.

Gw tuliskan beberapa point penting dari setiap chapter untuk sebagai reminder pribadi maupun pembaca blog gw:

Chapter 1

Work rules.. for becoming founder

  1. Choose to think of yourself as a founder
  2. Now act like one
"..My job as a leader is to make sure everybody in the company has great opportunities, and they feel they're having a meaningful impact and are contributing to the good of society.." Salah satu quote dari Larry yang menggambarkan bagaimana seorang leader seharusnya berpikir.


Chapter 2


Work rules.. for building a greate culture

  1. Think of your work as a calling, with a mission that matters
  2. Give people slightly more trust, freedom, and authority than you are comfortable giving them, if you're not nervous, you haven't given them enough


Chapter 3

Work rules.. for hiring

  1. Given limited resources, invest your HR dollars first in recruiting
  2. Hore only the best by taking your time, hiring only people who are better than you in some meaningful way, and not letting managers make hiring decisions for their own teams.
Cara mereka rekrut orang sangat ninja. Mereka tidak kompromi pada kualitas dan hiring decision ditanggapi sangat serius.


Chapter 4

Work rules.. for finding exceptional candidates
  1. Get the best referrals by being excruciatingly spesific in describing what you're lookimg for
  2. Make recruiting part of everyone's job
  3. Don't be afraid to try crazy things to get attention of the best people
Point 2 itu beneran. Sekitaran bulan Januari/Febuary gw dibantuin sama salah satu kenalan Googler yang kantornya di Singapore untuk apply suatu posisi. Dan dia yang langsung referalin. Seminggu kemudian ada balasan bahwa gw belum memenuhi kualifikasinya mereka. Mhh.. first try lah wajar! Terus ga lama dari itupun temen gw direferalin untuk jadi Language Specialist. Jadi Googler tuh kalo misal yang direferalin masuk, mereka bakal dapet bonus.


Chapter 5

Work rules.. for selecting new employees
  1. Set a high bar fo quality
  2. Find your own candidates
  3. Acsess candidates objectively
  4. Give caniddates a reason to join


Chapter 6

Work rules.. for mass empowerment
  1. Eliminate status symbols
  2. Make decision based on data, not based on the managers' opinions
  3. Find ways for people to shape their work and the company
Budaya ga enakan organisasi di Indonesia seharusnya bisa disolve dengan menerapkan rules 2 di Chapter 6. Jadi, meski opini dari manager, tetap harus ada data yang menunjang. Dengan begitu karyawan di bawahnyapun bisa mempunyai kesempatan untuk pendapatnya didengar.


Chapter 7

Work rules.. for performance management
  1. Set goal correctly
  2. Gather peer feedback
  3. Use a calibration process to finalize ratings
  4. Split reward conversations from development conversations
Chapter ini pengen gw coba. Meski anggota team masih sedikit tapi seharusnya segala sesuatunya harus diukur.


Chapter 8

Work rules.. for managing your two tails
  1. Help those in need
  2. Put your best people under a microcope
  3. Use surveys and checklist to find the truth and nudge people to improve
Di bab ini insightnya adalah prioritaskan perhatikan kepada anggota tim dengan performance paling baik dan paling buruk. Yang paling baik tentu adalah assets, jangan sampai dengan kontribusinya yang besar, ia merasa tidak diapresiasi. Yang paling buruk belum tentu tidak berbakat, mungkin saja rolenya sekarang kurang cocok, bisa jadi di role yang lain dia adalah performer yang paling baik.



Chapter 9

Work rules.. for building a learning institution
  1. Engage in deliberate practice: Break lessons down into small, digestible pieces with clear feedback and do them again and again
  2. Have your best people teach
  3. Invest only in courses that you can prove change people's behavior
Chapter yang ini relevan dengan yang pernah gw tulis, soal learning organization. Dan sebelumnya gw juga pernah baca artikel blog yang insightful di blognya Zenius tentang Deliberate Practice (DP).


Chapter 10

Work rules.. for paying unfairly
  1. Swallow hard and pay unfairly. Have wide variations in pay that reflect the power law distribution of performance
  2. Celebrate accomplishment, not compensation
  3. Make it easy to spread the love
  4. Reward thoughtful failure
Gw serasa didukung bahwa menggaji karywan dengan nominal yang beda untuk title role yang sama tapi kontirbusinya beda itu sah saja.



Chapter 11

Work rules.. for paying efficiency, community, and innovation
  1. Make life easier for employees
  2. Find ways to say yes
  3. The bad stuff in life happens rarely.. be there for your people when it does.
Di chapter ini ada cerita-cerita treatmen yang dilakukan Google kepada karyawannya yang baru saja punya anak. Ini sangat perlu untuk menunjukan bahwa kita sebagai company care mengenai hidupnya karyawan.


Chapter 12

Work rules.. for nudging toward health, wealth and happiness
  1. Recognize the difference between what is and what ought to be
  2. Run lots of small experiments
  3. Nudge, don't shove


Chapter 13

Work rules.. for screwing up
  1. Admit your mistake. Be transparent about it
  2. Take counsel from all directions
  3. Fix whatever broke
  4. Find the moral in the mistake, and teach it


Chapter 14

Work rule
  1. Give your work meaning
  2. Trust your people
  3. Hire only who are better than you
  4. Don't confuse development with managing performance
  5. Focus on two tails
  6. Be frugal and generous
  7. Pay unfairly
  8. Nudge
  9. Manage the rising expectations
  10. Enjoy! And then go back to No. 1 and start again

Masih pengen tau? Silahkan cek slidenya Laszlo Bock atau blog Google for Education mengenai Work Rules. Atau masih pengen tau lebih lanjut? Silahkan beli di toko buku terdekat!
Read More

Rita & Sutisna: Wedding Story


Ga nyangka sekarang udah nikah. Sekarang deket-deket sama istri jadi wajib hukumnya. Dan checklist malam jumat jadi sempuran dengan istri. hehe

Pelaksanaan nikahnya waktu itu adalah di rumahnya istri gw. Rumahnya lumayan jauh dari Sumedang, tepatnya di Dayeuh Luhur. Salah satu pegunungan di Sumedang yang orang-orang sering kesana untuk wisata ziarah karena di sana katanya pernah dijadikan pusat pemerintahan Sumedang Larang ketika melawan Belanda. Di sana juga ada makam Putri Haribaya, istrinya Prabu Geusan Ulun.

Meski jauh, tapi ga sia-sia mengejar cinta hingga pegunungan Dayeuh Luhur karena gw seperti mencari tuan putri kerajaan.

Proses akad nikah. Santai tapi tetep berasa deg-degan pas ucap ijab

Sebenarnya, rukun pernikahan itu sangat sederhana. Adanya calon suami & istri, wali nikah calon istri, 2 saksi dan mas kawin. Proses akad nikah ga sampai 30 menit. Tapi persiapannya dan prosesnya luar biasa melelahkan. Banyak banget hal-hal yang dilaksanakan yang sebetulnya mengikuti tradisi saja, bukan merupakan anjuran Islam. Misal seperti prosesi seserahan, upacara adat dan berbagai prosesi lainnya. 

Nungguin pacar yang udah halal. Mukanya tegang penasaran gitu ya?

Untuk yang mau menikah, sebetulnya jangan dipaksakan untuk bisa menikah sesuai dengan tradisi sekitar jika memberatkan. Karena pernikahan memang seharusnya tidak menjadi beban untuk yang ingin melaksanakannya.



Meski tradisinya kadang bikin ribet, tapi gw tetep suka dengan tradisi pernikahan sunda seperti sawer, injak telor, sungkeman maupun pecahin kendi. Sawer itu katanya simbol berbagi kebahagiaan di hari pernikahan dari kedua keluarga.

Tuh kan ibu-ibu seneng banget lempar-lempar saweran
Proses sungkeman selalu menjadi paling mengharukan. Doa dari orangtua kepada anaknya tulus terucap untuk kebaikan. Entah kenapa pada saat sungkeman sama Mamah Adil adalah yang gw nangis. Mamah Adil adalah mamahnya temen paling deket gw sejak kecil dan sudah gw anggap seperti mamah sendiri. Pernah waktu pas SMP, gw ikut camping dan ada momen dimana bahas soal Ayah dan gw nangis karena kangen Ayah yang sudah meninggal. Dan waktu itu yang gw peluk sambil nangis adalah Mamah Adil. Momennya persis seperti kemarin nikahan. 


Kini gw punya tambahan dua orang tua yang sama-sama harus diperhatikan, yang sama-sama dimana gw berikan bakti sebagai anak.


Terima kasih untuk teman-teman yang telah memberikan doanya untuk kami dan teman-teman yang menyempatkan hadir ke Dayeuh Luhur. Ada beberapa temen yang dateng dari Bandung. Terharu banget karena perjalanan Bandung-Sumedang nya aja udah jauh, belum Sumedang-Dayeuh Luhurnya.

Udah dulu ya postingnya. Mau pacaran dulu sama istri. Bye! hehe
Read More

Monday, March 7, 2016

Carita ti Ngariung Bubuka


Cross-posted dengan blog Sumedang Creative Forum.

Kami dari tim koordinator Sumedang Creative Forum mengucapkan terima kasih banyak utuk semua pihak yang mendukung terselenggaranya Ngariung #1 yang pertama kali diselenggarakan di Lazy Very pada 18 Februari 2016 kemarin.
Terbentuknya Sumedang Creative Forum berawal dari kami yang merasa bahwa setiap anak muda harus dapat berkontribusi ke daerahnya dalam apapun bentuknya. Karena kami memiliki latar belakang di bidang kreatif, akhirnya kami memberanikan diri untuk membuat inisifatif ini.
Kegiatan diawali dengan perkenalan dari perwakilan komunitas yang hadir. Perwakilan komunitas dan individu yang hadir kurang lebih 50 orang. Untuk sebuah permulaan, Ngariung #1 kami rasa terselenggara dengan cukup baik. Setidaknya kami bisa kembali berkumpul dengan anak muda Sumedang yang tertarik dan ingin mengembangkan bidang kreatif di Sumedang, saling berdiskusi dan memberi ide.
Creative people yang kami ajak share di Ngariung kali ini adalah Kang Rangga Wiangga, owner Madman Wear. Salah satu brand clothing di Sumedang yang terus berinovasi. Ada juga Kang Krisna Setiawan sebagai perwakilan dari Komunitas Hobi Foto Sumedang. Dan Winda A.G, seorang mahasiswa Karawitan STSI yang sudah mendalami seni tradisional Sunda sejak kecil.
Dari Kang Rangga yang seorang creativepreneur, kita meyakinkan bahwa berkarya juga bisa menghidupi kita. Dan berbisnis itu bukan soal punya modal berapa banyak, tapi soal pola pikir dan keberanian. Jangan sia-siakan jika ada peluang di depan mata!
Dari Kang Krisna, kita diingatkan kembali soal pentingnya passion dalam berkarya. Meski menempuh pendidikan IT, tapi Kang Krisna memberanikan diri ‘belok’ ke bidang fotografi yang lebih diminatinya.
Konsistensi Winda di seni tradisi memberikan inspirasi untuk kita. Bahwa apapun yang kita lakukan secara konsisten, meski skalanya kecil, akan memberikan dampaknya berarti.

Insight bermanfaat tidak hanya didapat dari creative people yang hadir sebagai narasumber, tapi dari perwakilan komunitas kreatif yang hadir. Yang paling selalu teringat bahwa perubahan baik hanya akan tercapai dengan cepat ketika setiap dari kita berkontribusi dan saling berkolaborasi. Kolaborasi tidak harus terpaku pada ‘label’ dimana kita berpijak, fokuslah kepada visi dan apa yang kita lakukan untuk Indonesia, dimulai untuk Sumedang.
Terima kasih kepada Lazy Very, Madman Wear, Media 3 dan eRKS yang telah mendukung terselenggaranya Ngariung #1. Sampai jumpa di Ngariung selanjutnya!
Read More
Designed By Seo Blogger Templates