Saturday, July 18, 2015

Kehidupan Dua Dunia


Ini bukan soal cerita kehidupan dunia dan akhirat, apalagi cerita tentang acara di salah satu stasiun televisi swasta. Ini soal pengalaman saya hidup di Kota dan di Desa.

Kehidupan Kota
Saya sedang berada di fase ini dan menghabiskan lebih banyak waktu di sini.

Waktu berjalan sangat cepat, seakan 24 jam sehari tidak pernah cukup. Kehidupan dimulai lebih siang, dan berakhir sangat larut. Bahkan hingga jam 2 pagi, tak jarang saya masih memikirkan bagaimana esok bisa bekerja lebih baik dan segera menyelesaikan pekerjaan.

Ibadah subuh adalah godaan terbesar, karena baru saja saya terlelap tidur, harus segera bangun lagi. Teman saya pernah bilang, bahwa Jakarta mengubah prespektif kita terhadap waktu. Saya amin-ni dengan tegas!

Ambisi duniawi begitu terasa. Sehari penuh, pikiran terpusat untuk mencapai kebaikan dunia.

Keistimewaan ramadan dan shalat malam tidak lantas mengurangi ambisi duniawi saya. Berdalih tidak sempat karena jam 12 malam baru pulang ke rumah.

Kehidupan Desa
Saya tumbuh di fase ini. Dimana semua keluarga saya berasal.

Waktu mengalir dengan seadanya. Seperti 24 jam memang dicukupkan untuk satu hari. Di sini kehidupan dimulai lebih cepat dan berakhir lebih awal. Jam 9 malam adalah waktu dimana semua kegiatan biasanya sudah berakhir. Tidur selalu dilengkapi dengan berbagai cerita di mimpi, yang entah apa maknanya.

Ibadah Subuh bahkan adalah yang ditunggu, karena saya bangun lebih cepat sebelum adzan berkumandang.

Tidak ada obrolan serius dan penuh ambisi di sekitar, yang biasanya saya temui di kehidupan yang lain. Tapi mereka di sini bukan tanpa ambisi, kehidupan mereka perlahan menaik. Rumah mereka semakin bagus, perabot di dalamnya semakin lengkap, kendaraan mereka seperti tiap tahun berganti. Mereka tidak berbeda dengan manusia di kehidupan lain.

***

Di kota saya belajar untuk semakin menghargai waktu, dan menyadarkan saya masih banyak hal baik yang bisa dilakukan di dunia ini.

Di desa, saya bisa merasakan tentram, menikmati waktu dan menjalankan apa adanya. Saya juga sadar bahwa kehidupan setelah kota dan desa itu dekat.

Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari dua kehidupan ini. Berada di keduanya membuat saya sadar akan keseimbangan hidup. Juga akan kesederhanaan, dimana kita akan kembali dengan kesederhanaan itu.


Ba'da Subuh, 2 Syawal 1436 H
Desa Darawati, Tasikmalaya


Designed By Seo Blogger Templates