Sunday, February 15, 2015

Chang Bersaudara: Kisah Klasik Kekayaan Sastra Dinasti Ming


Kata teater tidak begitu asing di telinga saya karena sejak kecil saya pernah terlibat pada seni panggung seperti itu. Meski hanya teater abal-abal yang cukup menampilkan suguhan sederhana hanya dengan latihan satu bulan. 

Saat SMK saya juga pernah menjadi sutradara untuk teater Sunda (longser) yang bercerita mengenai kisah mainstream Kabayan dan Iteng dengan paduan adegan musikal pop sunda populer yang mengantarkan saya menjadi sutradara terbaik satu sekolah. #eaahh

Mbak Pepita Gunawan sebagai Kakak Rui, yang jahat dibalik kecantikannya. foto: Dok. Teater Legiun

Dari berbagai teater yang saya pernah terlibat, teater Chang Bersaudara adalah teater beneran (profesional), yang pertama kali saya tonton. Alasan utama menonton teater ini adalah karena rekan kami menjadi salah satu pemeran utamanya, yaitu Mbak Pepita Gunawan

Teater ini diselenggarakan pada 6 & 7 Januari 2015 di Gedung Kesenian Jakarta. Saya menonton pada hari pertama, yaitu hari jumat. Setiap hari jumat saya ada kegiatan di ITB untuk membantu pelaksanaan mata kuliah Bisnis Berbasis Teknologi. Karena tidak ingin ketinggalan terlalu lama untuk menonton   teater ini, maka kami menyelesaikan mata kuliah lebih cepat.

Mereka berasal dari berbagai latar belakang. foto: Dok. Teater Legiun

Chang bersaudara adalah produksi ke-7 dari Teater Legiun, teater yang berdiri sejak tahun 2005 di Jakarta. Teater ini beranggotakan berbagai individu dari berbagai latar belakang yang berbeda, ada yang masih sebagai pelajar/mahasiswa, ada yang karwayan kantor, orang tua, guru, hingga pengusaha. Mereka adalah sekumpulan seniman yang memiliki visi untuk membawa dampak positif dalam masyarakat melalui seni panggung.

Chang bersaudara berkisah tentang keluarga tukang kayu miskin, yaitu Chang di kota sungai Suzhou yang terkenal dengan keindahannya. Chang Jisong, pengrajin kayu yang cekatan, memiliki dua anak lelaki, yaitu Chang Sanbao dan Chang Nushi. Mereka dalah pengrajin kayu yang cekatan dan mahir, tapi kemiskinan tetap menjadi permasalahn mereka. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Tuan Wang, juragan batu giok yang kaya raya. Tuan Wang menyukai karya mereka dan membawa ketiganya untuk bekerja di rumhanya.

Dok. Teater Legiun

Tuang Wang terkesan dengan kedua anak lelaki Chang, terlebih karena ia hanya memiliki dua anak perempuan. Tuan Wang bermaksud menikahkan anak perempuan bungsunya, adik Yu dengan Chang Sanbao. Konflik dimulai dari sini ketika Kakak Rui dan suaminya yang tidak setuju dengan keputusan Tuan Wang.

Sekilas ceritanya seperti opera sabun yang kerap kali menampilkan kejahatan untuk memperebutkan kekuasaan dan harta. Tapi ini 10x lebih layak disimak berjam-jam daripada opera sabun di TV. Ditambah dengan apiknya pencahayaan, properti, kostum, koreografi dan tata musik yang menawan.

Saya kagum melihat secara langsung teater yang dikemas sangat profesional dan terheran-heran melihat properti digerek ke atas secara otomatis ketika berganti latar belakang adegan. Di awal saya kira ceritanya akan berjalan sangat serius, tapi dugaan saya salah. Penonton berkali-kali dibuat tertawa lepas oleh letupan komedi ditengah adegan menengangkan sekalipun. Awesome!

"Sang korban harus menjadi sang pejuang"


Foto bareng anak-anak Kibar yang semua diboyong untuk nonton! Sampai jumpa di teater Legiun selanjutnya.



Designed By Seo Blogger Templates