Sunday, November 9, 2014

Lentera: Internet Lebih Positif untuk Pendidikan


Blog ini seperti mati suri! Terakhir posting bulan Agustus kemarin. Lupa deh sama komitmen untuk bikin tulisan secara regular. Hanya bertahan selama dua bulanan hingga akhirnya harus lupa sama sekali. Sebenernya sih bukan karena sibuk, da sibuk apa atuh aku mah. Hanya saja ga banyak waktu luang yang bisa saya pake untuk nulis dengan santai. Baiklah lupakan saja, saya coba tebus kekhilafan saya dimulai dengan menulis soal pengalaman terlibat pada project Lentera.

Lentera ini projectnya Kibar untuk divisi public policy-nya Google Indonesia. Bentuk kegiatannya sih seminar biasa yang melibatkan guru, siswa dan perwakilan orangtuanya. Topik yang dibahas adalah mengenai pemanfaatan internet secara lebih sehat dan positif. Di dalamnya terdapat diskusi panel yang bahas gimana sih supaya internet lebih aman, seperti sesimpel mengamankan password dan membatasi informasi pribadi di dunia maya.

Kolaborasi, Kolaborasi, Kolaborasi

Lagi panel dirjen kominfo, dari Google dan ICT Watch

Meski memang yang punya hajat adalah public policy-nya Google, tapi project ini berkolaborasi dengan banyak pihak. Dengan divisi Google for Education, ICT Watch, Relawan TIK, Nawala, pemerintah kota setempat, kominfo dan kemdikbud.

Dari kolaborasi yang banyak ini saya kenal banyak orang baru. Dulu saya hanya mengenal mereka lewat internet saja melalui program-program yang dijalankan oleh ICT Watch misalnya. Saat project ini saya bisa duduk bersama untuk kesuksesan Lentera.

Kolaborasi memang banyak manfaatnya, tapi kadang jika kurang bisa membawanya dengan baik malah bakal berakibat kurang baik. Saya banyak mengambil pelajaran baru dari kolaborasi ini. Kolaboraisnya sempet menegang tapi alhamdulillah semuanya bisa berakhir dengan baik-baik saja.

Baronda ka Ambon!

Pisang goreng pake sambal, mantap!

Lentera ini dibikin roadshow sekaligus di 3 kota, yaitu Ambon, Surabaya dan Bandung. Yang paling exciting tentu saja Ambon, biar sekalian baronda (jalan-jalan) di Ambon. Kalo dulu hanya tau slogan Ambon Manise dan kabar keindahannya, kini sudah bisa menginjakan ke tanah yang beberapa waktu lalu sempet kisruh. Sekarang Ambon sudah aman banget!

Lentera yang diselenggarakan di Ambon cukup bikin tegang. Karena ini kota baru buat kita dan ga punya tim di sana. Untung saja ada tim Relawan TIK yang bantu koordinasi dengan peserta.

Foto rujaknya dari Saggaf

Setelah event, bisa jalan-jalan sebentar untuk menengok pantai Natsepa dengan rujak buahnya yang terkenal itu. Tapi saya pribadi ga trerlalu suka sama bumbu rujaknya. Saya lebih suka pisang goreng dengan sambalnya yang mantap!

Lalu nyempetin juga liat belut raksasa di daerah Morea. Belutnya beneran gede. Mereka hidup damai dengan penduduk setempat di sebuah sungai mata air yang jernih. Untuk membuat belut itu keluar dari sarangnya, sang pawang harus ngasih telur mentah sebagai umpan.

Nyempetin juga berkunjung ke Universitas Pattimura dan untuk bisa kesana harus nyebrang pake ferry. Norak banget lah baru pertama nyebrang pake kapal ferry.

2 Kali Gagal Ngundang Ridwan Kamil

Bu Risma lagi menyampaikan pembukaan

Di Lentera ini, selain mengundang pejabat dari kominfo, kemdikbud, dinas pendidikan, kita juga ngundang pejabat pemerintah kota setempat. Nambah lagi pengalaman untuk ngundang pejabat dari kementerian, karena pertama kalinya berhubungan dengan kemdikbud.

Udah dua kali ngundang Bu Risma untuk hadir ke kegiatan yang kita bikin dan keduanya selalu datang. Udah dua kali ngundang Pak Ridwan Kamil dan ga pernah bisa kesampean, saya merasa gagal #eaahh. Mungkin kegiatan selanjutnya bisa sempetin dateng ke acara kita ya, pak!
 

Jadi Panitia+Pengisi Acara


Di Lentera ini kerjaan saya lebih banyak dari sebelumnya, selain ngurusin undang mengundang pembicara, pejabat dan peserta, juga dapet kesempatan untuk mengisi sesi Google Apps for Education dibantu oleh temen-temen Google Student Ambassador lainnya.

Waktu di Ambon dan Surabaya ngerangkap panita dan pengisi acara sih masih berasa ga keteteran. Nah pas di Bandung baru deh keteteran. Pertama mungkin karena ga ada nci Livana yang biasanya supervisi meja registrasi dan saya juga kurang bisa mendelegasikannya ke orang lain.

Buat saya pribadi, Lentera Bandung memang yang paling kurang saat pelaksanaannya. Tapi saya tetap total dan bahkan kerja lebih banyak dari pada Lentera di kota sebelumnya. Tapi totalitas tersebut tidak serta merta setidaknya menunda caci maki terhadap noda kecil yang saya lakukan. Seolah noda kecil itu menghilangkan nilai dari totalitas yang saya lakukan. Saat itu, saya merasa seperti miss indonesia, semua mata tertuju kepadaku untuk caci makinya. Tidak apa, selalu banyak hal yang lebih baik diambil positifnya ko!


Pelaksaan kurang bukan berarti Lentera Bandung tidak sukses. Sukses berat. Peserta yang dateng nyaris kebanyakan dan saya sangat beruntung masih dibantuin sama temen-temen di Bandung. Padahal udah lama ga silaturahmi.


Terima kasih ya teman-teman semua untuk dukungannya di Lentera!




Designed By Seo Blogger Templates